Aktivitas bongkar muat bijih nikel di pelabuhan bongkar muat milik PT. Huadi Nickel Alloy Indonesia (Huadi group), Huadi mendapatkan sebagian pasokan nikel mentah dari wilayah-wilayah lain mulai Malili di Sulawesi Selatan, Kolaka, Bombana, dan Kolaka Utara di Sulawesi Tenggara sampai Konawe Utara/Iqbal Lubis untuk Bollo.id
Aktivitas bongkar muat bijih nikel di pelabuhan bongkar muat milik PT. Huadi Nickel Alloy Indonesia (Huadi group), Huadi mendapatkan sebagian pasokan nikel mentah dari wilayah-wilayah lain mulai Malili di Sulawesi Selatan, Kolaka, Bombana, dan Kolaka Utara di Sulawesi Tenggara sampai Konawe Utara/Iqbal Lubis untuk Bollo.id

Percakapan Warga Di Tengah Arus Deras Hilirisasi Nikel

Di tengah kebijakan hilirisasi nikel yang menjadi primadona, warga di tingkatan tapak masih terus berhadapan dengan perampasan tanah dan kerusakan lingkungan hidup.

Selepas salat magrib satu persatu warga mulai berdatangan ke pondok yang berdiri di dekat pantai. Para lelaki datang dengan rokok yang mengepul, para ibu berjalan sambil menggandeng anak mereka dan anak muda kampung dengan handphone di tangannya. Malam itu, banyak warga berkumpul, tumpah-ruah di pondok.

Terdengar suara ombak yang menabrak tanggul beton, bersahutan dengan suara bising bongkar muat di jetty perusahaan tambang nikel. Angin berhembus pelan menerpa kami yang duduk berkerumun.

Pondok ini beratap rumbia dan beralas papan. Di bagian samping sengaja dipasang dinding papan untuk bersandar. Di dekatnya berdiri pohon kelapa yang  berdiri tinggi menjulang. Di siang hari, tempat ini menjadi titik kumpul favorit warga. Angin pantai membuat warga nyaman membunuh waktu di tempat ini. 

Pondok ini tak pernah kosong, selalu saja warga datang; duduk, merebahkan badan sambil bercengkerama satu sama lain. Bangunan dua bilik ini menjadi tempat kumpul warga. Berdiri sebagai tempat kumpul warga yang menolak tambang nikel di Pulau Wawonii, Sulawesi Tenggara.


Bollo.id adalah media independen dan tidak dikuasai oleh investor. Sumber keuangan kami tidak berasal dari industri ekstraktif atau pihak-pihak yang memiliki afiliasi dengan industri tersebut. Dukung kami dengan berdonasi, agar bollo.id terus bekerja demi kepentingan publik.

Donasi melalui: bit.ly/donasibollo


Malam itu, 12 September 2024, dua komunitas warga berkumpul; Warga Wawonii yang menjadi tuan rumah dan Warga Torobulu yang datang berkunjung ke Pulau Wawonii. Warga Torobulu, menempuh puluhan kilometer dengan jalan darat, lalu menyeberang dengan kapal kayu selama 5 jam untuk sampai ke Pulau Wawonii. Mereka sangat terkesan dengan perjalanan ini. Apalagi ini kali pertama mereka datang ke Pulau Wawonii.

Dua komunitas warga ini punya cerita yang serupa: mereka berjuang melawan perusahaan nikel yang beroperasi di kampung mereka. Warga di Pulau Wawonii berhadapan dengan perusahaan PT. Gema Kreasi Perdana (GKP), sementara di Torobulu berhadapan dengan PT. Wijaya Inti Nusantara (WIN).

Malam pertama di Pulau Wawonii, warga nonton bersama film dokumenter “Kutukan Nikel”.  Film ini mengambil latar di di Pulau Wawonii bersama dengan daerah lain di Indonesia timur yang menjadi penghasil nikel seperti Halmahera dan Morowali.

Film ini menggambarkan bagian dari perjuangan warga Wawonii mempertahankan tanah mereka dan kampung dari perusahaan tambang nikel PT. Gema Kreasi Perdana (PT.GKP).

Potret Pulau Wawonii, Kabupaten Konawe Kepulauan, Sulawesi Tenggara, di tengah ancaman tambang PT GKP/JATAM/Bollo.id
Potret Pulau Wawonii, Kabupaten Konawe Kepulauan, Sulawesi Tenggara, di tengah ancaman tambang PT GKP/JATAM/Bollo.id

Mereka tertawa lepas saat melihat wajah mereka berada di dalam film. Salah satu adegan di film, ketika mereka membangun tenda perjuangan yang menjadi pos jaga agar tanah mereka tidak diterobos lagi oleh perusahaan. Warga pulau memang sengaja membangun ‘posko’ di kebun mereka untuk berjaga-jaga agar lahan mereka tidak digusur oleh perusahaan.

Suatu waktu, banyak warga menginap di rumah kebun bersama keluarga untuk berjaga, memastikan tanah mereka aman dari perusahaan tambang nikel. Perusahaan sering secara sembunyi-sembunyi menggusur lahan warga, tanaman yang berdiri di atasnya dibiarkan tumbang bersama tumpukan tanah.

Selepas menonton film, warga melanjutkan menonton potongan video Desa Torobulu yang koyak digasak tambang nikel. Mereka terheran-heran, melihat pemukiman Warga Torobulu ditambang tanpa ampun. Mereka melihat dengan jelas bagaimana di belakang sekolah ditambang, di dekat rumah warga dan di dekat fasilitas umum seperti lapangan sepakbola tak luput dari pertambangan. Di video, tampak dari udara, bagaimana lokasi bekas tambang menyisakan lubang bekas tambang yang menganga tanpa reklamasi.

Begitulah kenyataannya. Perusahaan tambang nikel bernama PT. Wijaya Inti Nusantara (PT. WIN) telah menambang di Desa Torobulu sejak tahun 2017 hingga saat ini. Kampung yang dulunya masyhur dengan hasil perikanan dan kelautan koyak karena tambang nikel.

Amliah yang duduk bersandar memberi komentar atas video Torobulu yang disaksikannya.

“Kalian tidak boleh berhenti. Kalian harus tetap memperjuangkan lingkungan hidup,” ungkapnya kepada Warga Torobulu.

Ia juga berujar, sebagai warga, mereka semua harus bersatu memperjuangkan tanah dan lingkungan agar tidak dirusak oleh perusahaan tambang nikel. Amliah membagi pengalamannya bersama Warga Wawonii yang tetap berjuang mempertahankan tanah dan kampung mereka dari ancaman kerusakan yang semakin luas akibat perusahaan tambang nikel.

Melihat kerusakan yang terjadi di Torobulu, ia semakin khawatir dengan aktivitas pertambangan di Pulau Wawonii; kampung halamannya. Ia mengingatkan kepada warga lain yang hadir agar tetap bersatu dan melawan demi tanah dan kampung halaman mereka.

Di bawah sinar lampu yang temaram, dengan semangat ia menceritakan pengalamannya bersembunyi di hutan selama hampir dua bulan. Saat itu, tiga orang warga ditangkap oleh polisi, dituduh melakukan perampasan kemerdekaan seseorang, sebagaimana ketentuan dalam pasal 333 Kitab Undang Undang Hukum Pidana. Mendengar kabar itu, ia segera bersembunyi, takut ditangkap. Jika ia ditangkap polisi, perjuangan warga akan semakin melemah, karena warga akan semakin takut dan khawatir.

Semenjak warga protes atas kehadiran tambang, puluhan orang mendapatkan surat panggilan polisi dengan bermacam-macam tuduhan. Dari penghalang-halangan aktivitas pertambangan, mengelola hutan tanpa izin, hingga pasal perampasan kemerdekaan seseorang. Namun, semua ancaman itu tak menyurutkan semangat warga untuk tetap menolak tambang nikel di pulau mereka.

Untuk menjaga kebun mereka dari ancaman penggusuran, mereka memutuskan membangun tenda di lokasi, menjaganya agar tidak digusur oleh perusahaan. Mereka tak ingin lahan mereka digusur lagi oleh perusahaan.


Baca: 2 Pembela Lingkungan dari Torobulu Didakwa Halangi Aktivitas Pertambangan


Sama halnya yang terjadi di Torobulu. Untuk menjaga kampung mereka dari ancaman aktivitas pertambangan, warga beramai-ramai menjaga lahan yang tersisa agar tidak ditambang lagi. Laki-laki dan perempuan bergantian menjaga lahan. Memastikan perusahaan tak menambang lagi di dekat pemukiman di Torobulu.

Andi Firmansyah salah seorang warga Torobulu menjelaskan kondisi Torobulu setelah ditambang. Ia juga menceritakan bagaimana dirinya dilaporkan oleh perusahaan tambang dengan tuduhan menghalang-halangi aktivitas pertambangan.

Tekadnya sudah bulat untuk mempertahankan Torobulu yang tersisa. Ia tak ingin Torobulu semakin hancur karena perluasan pertambangan PT. WIN.

Kriminalisasi terhadap dirinya tak menyurutkan niatnya untuk tetap berjuang. Segala macam tawaran datang padanya, mulai dari tawaran menjadi karyawan, tawaran uang dan barang. Namun, semua tawaran itu ia tolak.

Idris yang hadir malam itu juga membagi cerita. Menurutnya tambang sangat terbatas. Dia hanya akan dinikmati sekelompok kecil saja. Berbeda dengan pekerjaan masyarakat seperti melaut dan bertani. Pekerjaan ini terbukti bisa memberikan kesejahteraan masyarakat Pulau Wawonii.

Atas dasar itu, ia bersama Warga Wawonii yang lain, tetap berjuang menolak PT. GKP beroperasi di pulau kecil mereka. Menurutnya segala cara telah dilakukan oleh perusahaan, baik dengan iming-iming uang, tawaran bekerja di perusahaan sampai premanisme.

“Segala cara telah dipakai. Kalau kita keras, mereka akan pusing. Intinya jangan takut,” ungkap Idris.

Para warga ini juga menyayangkan keterlibatan pemerintah yang justru mendukung para penambang. Segala protes yang mereka sampaikan ke pemerintah hanya menguap begitu saja.

Berselang pertemuan itu, dua kabar baik datang berturut turut. Kabar pertama, dua warga pejuang lingkungan dari Torobulu dinyatakan lepas oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Andoolo.

Hakim menilai, apa yang dilakukan oleh warga Torobulu adalah bagian dari partisipasi masyarakat dalam perlindungan lingkungan hidup yang dilindungi oleh ketentuan hukum di Indonesia.

Kedua, tindakan warga merupakan upaya menjaga lingkungan hidup, tidak didasari keinginan untuk mencari keuntungan ekonomi. Terakhir, hakim menilai bahwa setiap warga negara berhak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat sebagaimana ketentuan di dalam konstitusi Indonesia.

Berselang seminggu, kabar baik datang dari Wawonii. Mahkamah agung membatalkan Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH) PT. GKP. Dengan putusan itu, harusnya perusahaan berhenti melakukan aktivitas sebelum mendapatkan IPPKH yang baru.

Dua putusan dengan jarak waktu yang berdekatan. Dua komunitas warga yang telah berhasil merengkuh kemenangan kecil. Sayangnya, perusahaan masih terus beraktivitas, mengeruk tanah, mengambil bijih nikel tanpa henti.

Aktivitas bongkar muat bijih nikel di pelabuhan bongkar muat milik PT. Huadi Nickel Alloy Indonesia (Huadi group), Huadi mendapatkan sebagian pasokan nikel mentah dari wilayah-wilayah lain mulai Malili di Sulawesi Selatan, Kolaka, Bombana, dan Kolaka Utara di Sulawesi Tenggara sampai Konawe Utara/Iqbal Lubis untuk Bollo.id
Aktivitas bongkar muat bijih nikel di pelabuhan bongkar muat milik PT. Huadi Nickel Alloy Indonesia (Huadi group), Huadi mendapatkan sebagian pasokan nikel mentah dari wilayah-wilayah lain mulai Malili di Sulawesi Selatan, Kolaka, Bombana, dan Kolaka Utara di Sulawesi Tenggara sampai Konawe Utara/Iqbal Lubis untuk Bollo.id

Di tengah kebijakan hilirisasi nikel yang menjadi primadona, warga di tingkatan tapak masih terus berhadapan dengan perampasan tanah dan kerusakan lingkungan hidup. Berbagai laporan dan pengaduan ke pemerintah dan penegak hukum menguap begitu saja.

Dengan segala kemampuan dan keterbatasannya, warga terus berjuang. Untungnya, solidaritas antar warga terus meluas dan menguat. Beginilah keadaannya. Sampai kapan?


Editor: Agus Mawan W


Adi Anugrah Pratama

Adi Anugrah Pratama adalah seorang advokat yang gandrung pada isu sumber daya alam. Menulis dan meneliti menjadi sampingannya.

Tinggalkan balasan

Your email address will not be published.

Terbaru dari Essay

Passompe’

Impresi yang saya dapatkan setelah menyaksikan pertunjukan ini, suatu sikap yang tidak terikat oleh batas, tidak

Skip to content